Selasa, 20 November 2007

Namamu dalam Tinta Emas

Anne duduk di meja sarapan , menyantap Cornflake-nya sambil membaca tulisan di kotak sereal di hadapannya. “Cornflake Lezat – Tawaran Baru yang Hebat!” begitulah tulisan di kotak itu. “Lihat bagian belakang kotak untuk keterangan selengkapnya.”
Kakak perempuan Anne, Mary, duduk di hadapannya, membaca tulisan di sisi satunya. “Hei, Anne,” katanya, “coba lihat tawaran hadiah ini – Namamu dalam Tinta Emas
Mary membacakannya, dan semakin lama Anne semakin berminat. “Kirimkan satu dollar berikut segel bukti pembelian dari kotak ini, dan tuliskan nama depanmu di blangko informasi. Kami akan mengirimkanmu sebuah bros khusus dengan namamu yang diukir dalam tinta emas. ( Hanya berlaku untuk satu orang dari tiap keluarga.)”
Anne menyambar kotak sereal itu dan membaca keterangan tadi, matanya berbinar-binar senang. Nama Jennifer diukir daam tinta emas berkilauan. “Bagus sekali,”katanya. “Bros dengan namaku diukir dalam tinta emas . Aku mau kirim, ah.”
“Sori, Anne, aku lebih dulu melihatnya,” kata Mary. “Jadi, itu hakku. Lagipula, kaukan tidak punya uang satu dollar, sedangkan aku punya.”
“Tapi aku ingin sekali punya bros seperi itu,” kata Anne. “Itu buatku saja, deh”
“Tidak!” sahut kakaknya.
“Kau selalu mau menang seniri!Mentang-mentang kau lebih tua dariku,” kata Anne, bibir bawahnya gemetaran dan matanya berkaca-kaca. “Sudah, kirimkan saja, aku tidak peduli!” Ia melempar sendoknya dan lari keluar dari dapur.
Beberapa minggu berlalu. Suatu hari, tukang pos membawakan sebuah paket kecil yang dialamatkan pada Mary. Anne begitu antusias melihat kotak itu, tapi ia tidak mau kalau Mary tau. Mary membawa paket itu ke kamarnya. Anne mengikutinya masuk dengan santai, dan duduk di tempat tidur.
“Kurasa itu bros untukmu. Mudah-mudahan kau menyukainya,” kata Anne dengan nada sinis. Perlahan-lahan Mary membuka bungkus pakt itu. “Oh, indah sekali,” kata Mary. “Persis seperti yang di tulis dalam kotak sereal itu, namamu dalam tinta emas. Dalam empat huruf yang indah. Mau lihat, Anne?”
“Tidak! Aku tidakpeduli dengan bros jelek itu!”
Mary meletakkan kotak itu di mejanya, lalu pergi meninggalkan Anne sendiri. Anne tinggal sendirian di kamar itu. Akhirnya ia sudah tidak tahan untuk melihat bros itu. Saat melihat isi kotak itu, ia terkesiap. Perasaan sayang dan malu kepada kakaknya bercampur aduk di hatinya, dan bros itu, dengan tulisan bertinta emas menjadi kabur di matanyayang basah oleh air mata.
Di bros itu terukir empat huruf indah – namanya dalam tinta emas: A-N-N-E.



Disadur dari “Chicken Soup for The Kid’s Soul”